Cinta itu, menyenangkan. Tapi, terkadang menyakitkan. Seperti ketika malam itu, suara diseberang sana bicara dengan suara serak. Aku tahu dia menangis, tapi tak kutanyakan alasannya sampai dia bicara sendiri padaku. Saat lisannya tak mampu menceritakan apa yang terjadi, pesan singkat menyampaikan segalanya. Katanya,”… broke up with him!” … Sesaat aku terdiam. Lalu, aku pamit dari teman-temanku karena disana, ada seorang teman yang lebih membutuhkan kehadiranku.
Perlahan kuketuk pintu kamarnya dan hanya,”…makan dulu, ada mie goreng tuh” yang keluar dari mulutku. Tak tahu apa yang harus aku lakukan, tapi setidaknya aku mencoba untuk membuatnya merasa lebih baik. Aku tahu, dia sangat suka makanan itu. Wajah kuyu dengan mata sembabnya muncul dari balik pintu kamar. Diam sesaat, lalu, ”makan dulu …” sekali lagi dua kata itu saja yang keluar dari mulutku sembari memandang wajahnya. Dia diam, tapi berjalan lemah menuju meja makan dan dalam bisu dia mencoba menikmati makanan yang sudah aku sediakan. Diam. Bisu. Hanya suara dari channel tv negara tetangga yang terdengar.
“Gue putus sama dia …”, katanya tiba-tiba. Aku hanya mampu memandang wajahnya, walau sederet pertanyaan nyaris meluncur bebas dari mulutku, tapi aku berusaha keras menahannya. Jangan kaypoh! Kalau dia mau aku tahu maka dia akan cerita alasannya. “Udah sering ribut, cape! Berantem terus!”
ah, apapun alasan yang membuat keributan itu sering terjadi, mestinya itu adalah sesuatu yang tidak bisa ditolerir lagi. Tarik nafas, keluarkan … sedikit merasa lega!
Seminggu setelahnya, aku melihat 3 tangkai mawar biru diatas meja makan. Aku ambil dan aku amati … “mawar biru dar …” belum selesai tanya itu melintas, “itu mawar dari dia” … dengan wajah sumringah. Aku memandang takjub. Lalu, “…baikan dan balikan lagi …” ow … ya sudah, that’s her life!
Hari, minggu, bulan … mungkin satu atau dua tahun kemudian, sebuah pesan singkat aku terima,”… udahan … udah selesai!” Ok, jadi itu jawaban atas pertanyaanku yang tak terungkap pada sikap janggal dari sosok itu. Sosok yang menambah kosa katanya bertambah dan membingungkan seperti juga aku.
Akhirnya, 3 tangkai mawar biru itu tak mampu menyelamatkan sesuatu bernama CINTA!
Ketika pelangi cinta ada dilangit sana, semuanya nampak indah. Tapi, ketika pelangi cinta itu tak lagi menghiasi langit kehidupan, yang ada hanya tetesan air mata. Memang tak semua mengalami itu. Sebagian, meneteskannya sesaat. Sebagiannya lagi, meneteskannya untuk waktu yang cukup lama. Tapi ada sebagian lain yang mengalami itu dan menganggap semua itu sesuatu yang harus dijalani tanpa harus ada airmata.
~~~yang punya blog~~~
Tulisan ini didedikasikan untuk seorang teman yang baik, yang selalu bikin aku ngomel panjang kali lebar sama dengan luas karena pusing dengan segala koleksi yang dibawa masuk ke rumah, yang selalu menagih dibuatkan makanan kesukaannya, yang suka duet untuk “Greatest Love of All (Whitney Houston)”, yang selalu bikin aku bengong bego gara-gara kelakuannya yang unpredictable. I miss that moment … ternyata, sekarang semua itu adalah kenangan terindah untuk kita. 
Pertanyaan: sebenernya ada ga sih mawar biru itu? Yang selama ini sering banget aku temukan hanya mawar merah, kuning, putih … tapi biru???