Tentang Pemanasan Global
Dari diskusi ringan online di chatroom yang merupakan kelanjutan dari wacana di acara HBH 03 Nov 07 itu akhirnya menimbulkan beberapa pertanyaan: mau mengangkat masalah apa yang berhubungan dengan global warming? Mau gimana konsepnya? Terus? Ok … ok … akhirnya, terjadi kesepakatan untuk menulis apa saja yang menurut kita menarik dan kira-kira berhubungan dengan global warming seperti penggundulan hutan, rumah kaca, dan lain-lain. Lalu, diposting di blog masing-masing sebelum tanggal 30 November 2007.
Setelah browsing di internet, akhirnya wikipedia memiliki penjelasan yang aku anggap cukup untuk merealisasikan diskusi ringan online beberapa waktu yang lalu. Dibawah ini, sebagian dari penjelasan lengkap tentang pemanasan global (global warming).
~~~
Pemahaman Global Warming
Menurut referensi yang aku baca dari sini, global warming atau pemanasan global adalah kejadian meningkatnya temperatur rata-rata atmosfer, laut dan daratan Bumi.
Temperatur rata-rata global pada permukaan Bumi telah meningkat 0.74 ± 0.18 °C (1.33 ± 0.32 °F) selama seratus tahun terakhir. Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC) menyimpulkan bahwa, "sebagian besar peningkatan temperatur rata-rata global sejak pertengahan abad ke-20 kemungkinan besar disebabkan oleh meningkatnya konsentrasi gas-gas rumah kaca akibat aktivitas manusia" melalui efek rumah kaca. Kesimpulan dasar ini telah dikemukakan oleh setidaknya 30 badan ilmiah dan akademik, termasuk semua akademi sains nasional dari negara-negara G8. Akan tetapi, masih terdapat beberapa ilmuwan yang tidak setuju dengan beberapa kesimpulan yang dikemukakan IPCC tersebut.
Model iklim yang dijadikan acuan oleh projek IPCC menunjukkan temperatur permukaan global akan meningkat 1.1 hingga 6.4 °C (2.0 hingga 11.5 °F) antara tahun 1990 dan 2100. Adanya beberapa hasil yang berbeda diakibatkan oleh penggunaan skenario-skenario berbeda pula dari emisi gas-gas rumah kaca di masa mendatang juga akibat model-model dengan sensitivitas iklim yang berbeda pula. Walaupun sebagian besar penelitian memfokuskan diri pada periode hingga 2100, pemanasan dan kenaikan muka air laut diperkirakan akan terus berlanjut selama lebih dari seribu tahun jika tingkat emisi gas rumah kaca telah stabil. Ini mencerminkan besarnya kapasitas panas dari lautan.
Meningkatnya temperatur global diperkirakan akan menyebabkan perubahan-perubahan yang lain seperti naiknya muka air laut, meningkatnya intensitas kejadian cuaca yang ekstrim, serta perubahan jumlah dan pola presipitasi. Akibat-akibat pemanasan global yang lain adalah terpengaruhnya hasil pertanian, hilangnya gletser dan punahnya berbagai jenis hewan.
Beberapa hal-hal yang masih diragukan para ilmuan adalah mengenai jumlah pemanasan yang diperkirakan akan terjadi di masa depan, dan bagaimana pemanasan serta perubahan-perubahan yang terjadi tersebut akan bervariasi dari satu daerah ke daerah yang lain. Hingga saat ini masih terjadi perdebatan politik dan publik di dunia mengenai apa, jika ada, tindakan yang harus dilakukan untuk mengurangi atau membalikkan pemanasan lebih lanjut atau untuk beradaptasi terhadap konsekwensi-konsekwensi yang ada. Sebagian besar pemerintahan negara-negara di dunia telah menandatangani dan meratifikasi Protokol Kyoto, yang mengarah pada pengurangan emisi gas-gas rumah kaca.
Apa penyebab pemanasan global (global warming)?
Lihatlah sekitar kita, apa sajakah penyebab dari pemanasan global? Sekali lagi, dari referensi yang ada: efek rumah kaca, efek umpan balik, variasi matahari.
Lalu, bagaimana dengan kita? Jangan-jangan kita juga sebagai salah satu penyumbangnya, seperti barang-barang/material yang kita gunakan sehari-hari? Kalau aku pribadi, aku mencoba mengamati sekitarku dengan radius yang cukup dekat dengan posisiku berdiri atau saat dalam perjalanan menuju satu tempat: ada air conditioner, ada kulkas, ada bangunan berkaca banyak sekali (rumah kaca), polusi udara, penggundulan hutan, pemotongan/pembelahan bukit di beberapa tempat yang ada di Batam, dan banyak lagi.
Apa dampak dari pemanasan global?
Menarik! Sekilas membaca referensi, dan diskusi online dengan seorang teman dari WWF cukup membuat aku mengernyitkan kening. Dengan pemanasan global, akan berakibat pada perubahan global cuaca, tinggi permukaan laut, perubahan cuaca yang pada akhirnya berdampak pada pertanian, kerusakan ekosistem, dan pada akhirnya berpengaruh pada kesehatan manusia.
Setelah sekilas membaca referensinya, rasanya tidak mungkin untuk menghindari pemanasan global. Bagaimana dengan prosesnya? Dapatkah kita sebagai penghuni planet bumi ini menyumbang sesuatu yang positif?
~~~yang punya blog~~~
Untuk teman-teman yang terlibat dalam diskusi online di chatroom beberapa hari yang lalu, membahas masalah global warming: ada Agung, Agaz, Bang Dhika, Adek Jaya, dan beberapa temannya Agaz yang maaf sekali tidak bisa disebutin satu persatu disini. Jujur saja … lupaaaa siapa saja yang waktu itu terlibat diskusi online ***ini alasan yang sesungguhnya*** termasuk Pipiet yang sesekali ikut nimbrung karena lagi sibuk ngejar-ngejar estilo pinkynya yang engga nyampe-nyampe ***GO PIPIET GO GO …!!!***, juga mas Agus Syafii … terima kasih untuk sharing idenya.
What next? Apakah diskusi offline akan direalisasikan? Aku kembalikan kepada teman-teman, terutama mas Agus? Tapi ide Agung untuk memakai atribut tentang global warming supaya ada feelnya ketika diskusi itu berlangsung, harus ada banner … mmm … baiklah! Itu hanya aksesoris untuk membuat ruh kegiatan diskusi itu lebih terasa … Sekali lagi, aku kembalikan kepada teman-teman. Tapi pastikan bahwa dengan adanya atribut itu tidak menjadikan kita sebagai salah satu penyumbang terbesar dalam proses percepatan memburuknya pemanasan global.
Thanks to Wikipedia Indonesia.



di sini global warming jg kerasa…cuaca jd teu puguh, kadang salju, kadang haneut.
Comment by coni — 30 November 2007 @ 5:55 pm
sebetulnya dampak pemanasan global telah terasa ditanah air..mungkin cuma masyarakat kita masih “tertidur”..banyak contohnya, seperti perubahan musim kemarau dan musim penghujan..kemudian badai siklon kecil yang ga pernah terjadi sekarang banyak terjadi di daerah kita dll..
jadi sebetulnya kita harus bersikap terhadap semua hal ini..kalo tidak bisa secara berkelompok, lakukan melalui langkah kecil..yaitu dari kita sendiri..
# berhenti atau mengurai pemakaian kendaraan berbahan bakar fosil..bike to work salah satu opsi yang bagus..
# Berhenti atau kurangi pemakai AC..kalo panas lebih baik buka jendela
# stop pengunaan segala barang yang menggunakan media spray (semprot) !!..dll..
lets make the earth better..
Comment by adekjaya — 1 December 2007 @ 12:11 am
yang jelas aku makin kepanasan pas pulkam, biasanya gak sepanas itu, gara2 banyak hutan di Bojonegoro yg sudah gundul. BTW tulisannya OK met, ane gak bisa bikin tulisan kaya gini
Comment by d-cebong — 3 December 2007 @ 10:15 am
Pemanasan global merupakan hal yang tidak terelakkan, setidaknya selama dua dasawarsa kedepan, yang akan berdampak pada meningkatnya kejadian bencana seperti kemarau panjang, banjir, badai, gelombang panas.
Lantas bagaimana dampak terhadap Indonesia, yang didalamnya terdapat lebih dari 17500 pulau? Naiknya permukaan laut menjadikan dataran rendah di pesisir pantai akan semakin sulit untuk ditinggali, pulau-pulau kecil diperkirakan akan tenggelam dengan naiknya permukaan laut (jangan takut, Batam Bintan cukup gede kok, paling Lagoi kelelep dikit, nyamuk lebih banyak, EHD makin jaya pastinya). Lain pula dengan ibukota Jakarta yang 40% daerahnya berada dibawah permukaan laut, besar kemungkinan akan menjadi langganan banjir. Hal ini tentunya diperparah oleh penurun permukaan tanah dan sistem drainase yang tidak terkelola dengan baik. Curah hujan periode bulan Desember sampai Februari selama abad 21 diperkirakan akan meningkat sekitar 10-20%, yang tentunya akan semakin mempersulit pengendalian banjir, khususnya bagi daerah daerah yang sebelumnya telah rawan banjir.
Lepas dari bencana banjir, kekeringan pun akan manjadi tamu yang semakin sering berkunjung. Sebagaimana kita rasakan bahwa sepanjang tahun 2006 terjadi kemarau cukup panjang yang disebabkan oleh El Nino, suatu fenomena meningkatnya suhu permukaan laut samudra pasifik di sepanjang garis katulistiwa dari Indonesia sampai Peru. Selama El Nino berlangsung, uap air yang terbentuk di atas wilayah Indonesia akan tertiup ke bagian timur dan jatuh di lautan sehingga kemarau panjang melanda sebagian besar daerah Indonesia, namun hal sebaliknya berupa banjir bagi negara-negara amerika latin. El Nino yang mulai dicatat sejak 300 tahun lalu, merupakan fenomena alam dengan siklus 2-7 tahun, namun frekuensi kejadian dan intensitas yang semakin kuat tercatat dalam dua dasawarsa terakhir ini. Kuatnya El Nino selain menyebabkan kemarau panjang juga menjadikan kebakaran hutan tidak terkendali. Sebagaimana terjadi pada 1997-1998, tidak hanya alam yang menjadi korban, kemarau panjang juga mempengaruhi kejiwaan manusia yang menyebabkan gejolak social dalam tanah air. Walau tidak selalu, berlalunya El Nino akan diikuti dengan munculnya La Nina, si gadis cilik yang memiliki sifat yang bertolak belakang dengan El Nino. Bagi Indonesia, datangnya La Nina berarti kita harus siap menghadapi banjir dan tanah longsor.
Pada akhirnya sebuah pertanyaan layak kita tanyakan pada diri kita sendiri, sudah siapkah kita menghadapi buah dari kemajuan dan pembangunan yang lupa memperhitungkan aspek lingkungan, yang bernama bencana?
Comment by enviro — 4 December 2007 @ 3:42 pm
Meity, mana logo global warmingnya?
Comment by agussyafii — 7 December 2007 @ 8:38 am
meity, logo global warmingnya mana?
Comment by agussyafii — 7 December 2007 @ 8:44 am