Persembahan Di Hari Ibu
Berawal dari komunikasi melalui e-mail dengan seorang teman yang akhirnya melahirkan ide untuk aku menulis sesuatu yang berhubungan dengan hari Ibu. Ide ini, masih terus ada dan akhirnya disinggung sewaktu ngobrol dengan Hany di chatroom ditambah dengan tulisan ceu Coni yang ini. Tulisan itu cukup membuat aku merenung, apa yang salah kalau pilihan ceu Coni untuk mengabdi pada keluarganya? Apa yang salah kalau become a housewife justru membuat ceu Coni bahagia? Nothing is wrong! Jadi Ibu rumah tangga bukan pekerjaan yang mudah, setidaknya itu menurut aku.
Bagi aku, yang masih single dan tentu punya keinginan bahwa satu hari nanti akan menjadi seorang Bunda, seorang Ibu, seorang Indung, seorang Ummi, seorang Mamah atau apapun sebutannya buat anak-anak yang akan lahir dimasa depanku. Tapi yang pasti itu adalah sosok penting dalam keluarga. Seperti jantung dalam tubuh manusia, seperti denyut nadi yang terus mengalirkan semangat untuk anggota keluarganya.
kubuka album biru
penuh debu dan nusa
kupandangi semua damba diri
kecil bersih, belum ternoda…fikirku-pun melayang
dahulu penuh kasih
kudengar semua cerita orang,
tentang riwayatku…*kata mereka diriku slalu dimanja
kata mereka diriku slalu ditimang
Penggalan lagu Bunda dari Melly Goeslow diatas seperti mewakili cerita masa kecil aku yang menurut mereka adalah seorang yang manja, seorang yang ringkih, seorang yang selalu dikelilingi oleh orang-orang yang begitu menyayangi aku, yang selalu melindungi dan memastikan bahwa semuanya baik-baik saja dengan aku. Sosok mamah yang selalu ada kapan saja untuk aku, yang selalu mendampingi aku ketika aku belum bisa apa-apa dan hanya mampu menangis sampai bisa seperti sekarang, yang dengan tegar menyampaikan berita duka itu hanya beberapa jam sebelum hari wisuda aku.
nada nada yang indah
slalu terurai darinya
tangisan nakal dari bibirku
tak-kan jadi deritanyatangan halus dan suci
telah mengangkat tubuh ini
jiwa raga dan seluruh hidup
rela dia berikan…*kata mereka diriku slalu dimanja
kata mereka diriku slalu ditimang
Seperti yang Meity bilang di atas, kami bersepakat untuk membuat sebuah tulisan dalam rangka Hari Ibu. Buat saya pribadi hari ini tanggal 22 Desember tidak terlalu istimewa. Saya seorang ibu, tapi saya tidak ingin keibuan saya dijadikan sesuatu yang patut dipuja-puja.
Walaupun di lain pihak, saya merasa hutang saya pada ibu saya amat besar. Berkat Ibu, saya bisa mendapat sekarung besar bekal yang ternyata amat berguna waktu saya harus mandiri keluar dari rumah Ibu dan Bapak. Berkat Ibu dan juga Bapak lah, saya bisa membuat berbagai keputusan besar yang sampai sekarang masih saya nikmati dampaknya.
Inginnya, setiap hari setiap saat adalah hari mengingat ibu saya. Dan semua ibu teman-teman terbaik saya yang berhasil menjadikan mereka menjadi orang baik. Tanggal 22 Desember hanya peresmiannya saja atau mungkin pengingat saja untuk yang kebetulan sedang lupa.
Untuk saya jadi ibu itu ya berjalan seperti perlunya saja. Berhubung saya sudah menikah lalu tidak lama kemudian terus beranak-pinak, tentu jadi ibu adalah sangat alamiah. Ya memang kebutuhannya sudah sampai di titik tersebut. Saya saat itu dibutuhkan untuk menjadi ibu.
Maka kebutuhan-kebutuhan lain secara alamiah juga menyingkir, memberikan jalan untuk kebutuhan yang lebih besar. Hamil, mempersiapkan kelahiran anak, menyusui, menyuapi, mengganti popok, mengajak bicara serta sesekali memarahi ananda bila perlu.
Semua itu mendadak menjadi prioritas. Saya melakukan pekerjaan-pekerjaan tersebut secara naluriah saja. Kalau bukan saya, siapa lagi.
Menyusui buat saya adalah sebuah kebutuhan, susu saya dibutuhkan ananda untuk hidup, maka menyusuilah saya. Tidak terlintas di benak saya bahwa anak saya yang anak manusia itu bisa hidup dengan susu selain susu saya.
Selesai menyusui, hidup saya masih berputar di sekeliling anak-anak. Menjamin mereka merasa terhibur, tenang, nyaman, dan kenyang adalah pekerjaan utama saya.
Seorang kawan laki-laki bertanya, ‘Lo nggak ngerasa bosen?’
Saya balik bertanya padanya,’Bosen itu apa?’
Seingat saya, bosan adalah sebuah kata yang mewah. Sebelum saya sempat merasa bosan, bos-bos saya yang balita itu sudah sibuk menitahkan ini dan itu. Beberapa menit sekali kecuali pada waktu mereka tertidur, mereka akan meminta sesuatu. Entah makan, minum, bermain bersama, membacakan buku, menggambari tembok, meniupkan balon, buang air, mencucikan baju yang ketumpahan Milo, dan seribu satu jenis permintaan lainnya. Begitu mereka lancar bicara, tugas saya bertambah. Saya harus menjadi kamus dan buku besar berjalan mereka. Harus sedia setiap saat menjawab pertanyaan-pertanyaan besar mereka yang sebagian besar dimulai dengan: KENAPA!
Tetap saja, saya masih merasa bahwa saya harus menjalaninya karena memang saat ini saya dibutuhkan untuk itu. Saya nyaris tidak punya celah untuk berpikir bahwa pekerjaan saya sebelum menikah dulu adalah sangat sangat menarik. Sesekali saya ingin kembali ke pekerjaan lama saya yang memungkinkan saya melihat berbagai bangunan besar menarik, di dalam dan luar Indonesia. Tapi rasanya, kok ternyata tidak penting lagi ya, buat saya. Belum, mungkin. Seiring dengan membesarnya anak-anak, saya terpikir untuk kembali memupuk ketertarikan saya pada hal-hal lama.
Kata bahagia untuk saya sendiri tidak penting dicari artinya. Nyaman lebih penting buat saya. Sementara ini, saya merasa nyaman. Menjadi ibu itu asik!
ooh bunda ada dan tiada dirimu
kan selalu ada di
dalam hatiku…
~~~yang punya blog~~~
Hasil kolaborasi Meity dengan Hany ini dipersembahkan untuk semua Ibu … sebagai ungkapan terima kasih kami …”Selamat Hari Ibu”






aku terima 1 copy Femina dari si penantang itu sebagai bukti kalau tulisanku dimuat di majalah Femina edisi tahunan 2008, walaupun dalam bentuk advertorial satu halaman penuh tapi … sebuah langkah kecil sudah dimulai!






ketika aku lihat namaku dengan jelas muncul di artikel tersebut. Dilihat dari tanggal posting dan obrolannya, komunikasi melalui YM itu terjadi pada saat bulan Ramadhan lalu dan aku sedang membaca 1 buku bagus yang didalamnya memberikan satu contoh teladan dari seorang Aimee Jacquet (karena aku menggunakan status tagku saat itu: pengen seperti aimee jacquet deh). Isi obrolan di chatroom itu bukan sesuatu yang confidential, tapi ada hal lain yang membuat aku bereaksi lain.
Pasti! Kaget? Iyalah! How do you feel, Meity? Hiks … 
- 