Untuk Kamu
Malam ini, sekali lagi aku tak melihat bintang dilangit sana. Hanya langit gelap dan rintik hujan yang menetes dikulit wajahku. Aku biarkan air hujan itu membasahi wajahku, berharap kesejukannya bisa aku rasakan sampai ke dasar hati yang galau.
Galau saat keterasingan menghampiri, tersisih diantara keramaian dan terbuang tak berdaya seperti sepah. Bathin ini hanya mampu berbisik,”ada apa dengan kamu disana?” dan aku merasakan perih itu. Kemarin, kita masih bersama, berbagi canda dan tawa, berbagi duka dan luka, berbagi cerita dan nasihat, saling menguatkan disaat lemah. Kemarin, kita memiliki aturan tak tertulis bahwa kita mesti mau bicara agar bisa saling tahu dan mengerti apa yang dirasa dan diinginkan. Tapi hari ini, semua itu tak ada lagi. Segalanya berubah seolah semua hanya mimpi dihari lalu.
Dulu, kamu mengalami luka yang membuatmu merasa kehilangan, tersisih dan terbuang. Dulu, kamu pernah katakan untuk tak ingin mengalami untuk kedua kalinya. Dan itu, tentang hilangnya kebersamaan! Saat kemarin, kebersamaan itu masih ada, masih terasa dan masih belum hilang dari ingatanku. Tentang cerita itu, tentang canda itu, tentang tawa itu, tentang air mata itu, dan jeritan kesakitan diantara kita saat tersakiti, dan teriakan diantara kita saat satu dari kita menulikan telinga, dan pelukan kasih sayang untuk saling menenangkan jiwa yang gundah. Kita bisa berbagi tanpa batas ruang dan waktu.
Tapi itu dulu dan kemarin. Sekarang, hari ini, segalanya berubah. Hanya sepi, duka, kesendirian, terasing, tersisih dan terbuang seperti seonggok benda tak berguna. Dan tanya yang mungkin tak akan pernah terjawab. Rasa engganku untuk mengusikmu dengan tanya itu mengalahkan segalanya, meski dulu dan kemarin kita selalu saling mengingatkan untuk mau bicara. Karena aku, kamu, kita bukan Tuhan. Karena aku, kamu, kita sama-sama manusia biasa yang punya banyak keterbatasan untuk tahu segala apa yang dirasa dan diangan.
Apakah dunia barumu yang membuatmu seperti itu? Apakah dunia barumu yang membuatmu memutuskan untuk berlari menjauh? Apakah dunia barumu yang membuatmu melupakan kata-katamu sendiri? Tentang asa itu? Tentang mimpi itu?
Tahukah kamu? Sekarang, disini, hari ini, aku hanya mampu meraba dalam gelap. Mencoba mengerti dan memahami semua yang ada dihadapan tanpa mesti bertanya agar kamu tak terusik. Seperti bintang-bintang yang enggan hadir ditengah gelapnya malam. Seperti kunang-kunang yang tak mau berbagi cahaya indahnya ditengah rintik hujan malam ini. Seperti itulah kamu sekarang, saat ini, hari ini dan mungkin juga esok.
Dalam dingin dan kegalauan hati, dalam diam dan sepi, aku mau kamu tahu bahwa aku tak pernah meninggalkan kamu agar dukamu dulu tak terulang lagi. Dan aku mau kamu tahu bahwa aku masih disini dan selalu menunggumu untuk mau bicara dari hati ke hati agar beban ini lepas, agar galau ini bertepi.
Indah andai apa yang kita punya dulu dan kemarin bisa terus ada. Dan indah andai kita bisa dan mau bicara dari hati ke hati dengan menanggalkan setiap ego yang kita miliki.
~~~yang punya blog~~~
Untuk kamu yang berlari menjauh dan tengah mencoba melompat untuk meraih satu bintang di dunia barumu. Semoga kamu menemukan apa yang benar-benar kamu inginkan. Semoga nanti, ada sedikit waktu yang tersisa untuk kita bicara dari hati ke hati.



Waduh, dalem banget, sampe merinding bacanya, ada apa neh dengan dirimu??? Gak kenapa-napa kan
Comment by landy — 11 March 2008 @ 6:39 am
Yg penting jangan memutus tali silaturahmi itu aja, dan mengingatkan untuk suatu kebenaran itu juga nggak salah kok
Comment by indi — 12 March 2008 @ 9:50 am
sumprit deh say dalem banget, aq gak sanggup baca detailnya gak kuat bo.
btw, dirimu nanyain mukena apa mau beli
Comment by linda — 27 March 2008 @ 3:15 pm