Malam itu, langit penuh dengan taburan bintang. Indah! Aku suka, sangat suka! Sedikit terhibur meski tanpa kerlip cahaya dari sekelompok kunang-kunang yang terbang rendah dan dekat untuk melengkapi malamku. Malam itu, aku seperti kehabisan tenaga dan hanya mampu memandang langit dari jendela. Sepertinya tenagaku terkuras habis dan menguap entah kemana. Benar-benar lemah!
Aku membiarkan pintu depan ruang ini terbuka, membiarkan angin malam masuk tanpa batas melalui pintu dan jendela yang aku buka lebar-lebar. Malam itu, ternyata aku tak sendiri, satu persatu temanku datang dan menemani. Kami menghabiskan malam dengan berbagi -sesekali berdebat- seperti biasa! Tapi malam itu aku lebih banyak mendengar, dan hanya satu dua kali mempertanyakan pernyataan mereka dan sesekali menjawab pertanyaan mereka. ”Jadi gimana sama dia?”, kata temanku itu dan aku memandang dia sekian detik sebelum menjawab,” Apanya yang gimana? Orangnya baik, tapi perlu dicatat bahwa dia calon suami orang, jadi kalo satu atau dua kali aku pergi dengan dia, itu engga lebih dari hubungan pertemanan. Catet itu! Jangan sampe rumor ngawur ini sampe ke calon istrinya, bisa bubar jalan masa depan orang!” …. suasana sunyi sekian detik, ”lalu dengan yang satu lagi?” … bengong begoku mulai muncul, karena betul-betul diluar dugaan dengan rumor yang beredar bahwa aku punya hubungan khusus dengan lebih dari satu orang kaum adam dalam waktu yang bersamaan, ”Dia??? Nilainya sempurna! Ganteng, punya istri yang cantik, dan tiga orang anak, berkepribadian dan dia termasuk tipe laki-laki setia! So, what do you expect? Kan kalian juga kenal dia, hubungan aku dengan dia ya sama seperti hubungan dia dengan kalian … purely as a friend!”
”Gitu ya, tapi dengan si personal advisor itu?”, sedikit bingung mendengar pertanyaan itu tapi aku tertawa geli, “Personal advisor? Yang mana? Ada dua orang, yang satu oomku dan satu lagi tuh orangnya, wanita ini yang aku anggap utusan seseorang yang hadir untuk menjagaku …, selebihnya … aku engga tau psikolog yang mana …”, mereka saling pandang lalu …
”She’s clean! I know her very well, she’s not that kind of person! Trust me!”, tiba-tiba suara itu muncul dari pintu depan dan semua mengalihkan perhatian ke arah sumber suara itu. Satu lagi temanku datang didampingi gadis cantiknya. Dia tahu aku, kedekatan kami berawal ketika satu kali kami berdiskusi tentang tempat tinggal kami, lalu bercerita tentang rencana masa depan kami masing-masing sampai satu ketika dia terpuruk karena satu hal, kami semakin dekat dan saling mendukung. Jadi, ketika satu dari kami tersakiti, maka yang lain akan merasakan sakitnya. Ketika satu dari kami bahagia, maka itu juga yang akan dirasakan oleh yang lainnya. Ketika dia datang dan memperkenalkan seorang gadis cantik, komentarku hanya satu, ”gadis itu cantik ya, baik lagi, rasanya kamu akan bahagia sama dia …” … dan kehangatan semakin berbaur malam itu. Obrolan tentang rumor itu masih terus berlanjut, meski tak ada satupun rumor yang beredar itu benar … ya, namanya juga rumor … gossip!
”Tapi soal masa lalu itu … katanya masih suka komunikasi?”, pertanyaanya rada kaypoh nih … ”So? What’s wrong? Ada yang salah dengan itu? As a friend? Dan itu pun tidak setiap hari, belum tentu seminggu sekali, belum tentu sebulan sekali, terkadang kami saling kirim kabar setelah enam bulan atau bahkan setahun satu kali! Salah ya?” … Haduuuh, ada apa ya malam ini? Kenapa sepertinya mereka datang tidak untuk mengembalikan energiku yang menguap tapi untuk mengklarifikasi satu tema yang sama! Aku jadi ingat SMS dari mantannya masa laluku, isinya singkat ”lagi ngapain lu? gue baru balik dari kl!” dan setelah itu aku membalasnya dengan menghubungi hp wanita itu, kami ngobrol akrab. Katanya, banyak hal yang dibahas ketika dia dan masa lalu kami bertemu termasuk menyinggung tentang aku. Tapi kami bertiga, aku, dia dan dirinya … kami sama-sama mengerti bahwa semua sudah diatur oleh-Nya! Jadi sekarang hubungan kami bertiga pun hanya sebatas teman, bahkan terkadang diantara kami bertiga berbagi kabar tentang kami bertiga ***mirip lagu Kahitna, Aku dirimu dirinya …***
Malam itu, kami bicara dari hati ke hati dan mencoba merunut sumber rumor itu sampai satu dari kami berkata, ”mestinya kita engga perlu repot seperti ini, mencari kambing hitam walaupun hari gini kambing laku! Cukup dengan mengingat bahwa ketika jari telunjuk menunjuk ke depan, maka tanpa disadari ada empat jari yang menunjuk ke dalam. Biarkan waktu yang membuktikannya, lagi pula ada yang lebih tau dari kita atas apa yang sebenar-benarnya terjadi. Jadi biarkan Dia yang memperlihatkan itu pada kita ketika waktunya tiba …” … semua meng-iyakan dan teman yang lain menambahkan, ”…tanpa harus ada perekayasaan situasi untuk mengalihkan perhatian atau apapun itu untuk mencari bukti tentang semua itu!” … ”Iya, tapi juga tidak bisa dibiarkan sampe terus berkembang kemana-mana dan akhirnya ya itu tadi, perekayasaan situasi untuk mengalihkan perhatian dari masalah sebenarnya … harus berani ambil sikap, harus berani bicara …”, kata temanku yang lain … ”berani mengambil sikap? Berani bicara? Kalau itu akhirnya akan nyakitin orang gimana?”, tanyaku … ”duuuh … kamu masih mikirin perasaan orang disaat orang-orang diluar sana engga perduli dengan perasaan kamu, dengan kondisi kamu, dengan keadaan kamu akibat dari semua itu …?!”, protes mereka nyaris sama seperti dengungan lebah. ”Aku hanya engga ingin membalas sakit ini dengan menyakiti, itu aja!” tapi temanku tadi bilang, ”kenapa harus perduli dengan perasaan orang disaat orang engga perduli dengan perasaan kamu? Mau sampai kapan kamu diam dan membiarkan semua ini?” … mati kamus … Tapi batinku tetap berkata biarkan mereka berbuat sesuka hati mereka, tapi jangan pernah membalasnya dengan tindakan yang sama karena kalau itu sampai terjadi maka aku harus bertanya pada diriku sendiri, ”apa bedanya aku dengan mereka?” dan aku, tidak ingin seperti mereka. Ikhlaskan, kembalikan semua pada-Nya karena Dia yang paling tahu apa yang sebenar-benarnya terjadi.
Malam itu, aku tertidur dengan kondisi yang benar-benar lemah! Aku lelah! Aku ingin kehidupanku kembali berwarna, warna cerah, warna penuh kehangatan dan cinta.
Malam itu, aku tertidur sampai matahari pagi terbit, sampai-sampai aku melewati 3 kesempatanku untuk merayu Allah. Semoga Allah mengerti dengan keadaanku hari itu.
~~~yang punya blog~~~
To Vika & Nana, thank you for all your fully support untuk aku tetep Nulis! Nulis! Nulis!
To Ibu, engga pernah terpikir bahwa tulisan-tulisanku jadi sumber inspirasi buat ibu … congrats bu, untuk juara keduanya … jadi kita makan-makan? Love you, ibu!
To the spirit of mine, tau kah kamu, selalu ada nama kamu disetiap do’aku dan aku akan selalu ada buat kamu … senyum doooong 