Renungan Menjelang Ramadhan
Setelahnya, aku masih merasa limbung dan rasanya semakin tidak seimbang. Waktu itu, aku hanya bisa membathin,”Ya Allah, ada apa ini?” sampai aku denger bunyi … krek .. krek … krek … Spontan instingku jalan, INI GEMPA!!! Aku teriak,”Nel, gempa ya? Nel?” Aku lari ke meja kerjaku yang memang sudah rapi. Waktu aku mau ambil tas dan sepatu, aku liat temen sekantorku itu pucat dan terduduk lemas di kursinya. Sontak aku menjerit,”Nell … ayo kita keluar!!! Cepeeeet!!!!” … Begitu keluar ruangan, tujuanku hanya satu, EMERGENCY EXIT! Sempat aku liat ke area lift dan, “Jangan pake lift!!! Ga boleh pake lift!!! Ayo lewat sini!!! Cepeeeet!!!!” Teriakanku semacam komando untuk semua yang ada dilantai itu, dan semua berhampuran menuju emergency exit. Aku pegang temenku sambil kita turun tangga dari lantai 14 dan sampai di lantai 7, temenku itu mencoba memberi komando, ”kita keluar … kita keluar … ke gedung belakang … “ Aku agak ragu sebetulnya, tapi aku coba mengikuti komandonya dan begitu sadar aku spontan teriak, “Nel, baliiiik … pintu kaca itu dikunci, balik ke tangga yang tadi .. ayooo cepeeeet!!!” Dalam suasana panik seperti itu, hanya satu suara yang didengar dan salah memberi komando maka akan fatal akibatnya. Kami berbalik dan lari lagi menuju emergency exit. Semua saling memberi semangat untuk terus berlari turun secepat mungkin. “Keluar … keluar disini … “ Itu teriakan ketika kita sampai di emergency exit ground floor. Lalu, kami semua lari ke lobby! Ternyata di lobby sudah banyak orang. Saat itu, sense of crisisku bener-bener jadi andalan! Aku tarik tangan temenku, “Kita ga boleh ada diruangan ini, ayo keluar … menyingkir dari sini!” dan kami baru berhenti ketika sampai di pos security depan. Disana, temenku itu sempat duduk terdiam sambil terus berzikir. Aku berdiri dan berdo’a sebisaku sambil mengamati sekeliling. Sampai aku tersadar akan sesuatu. “Nel, kita harus cari tempat yang aman! Tempat ini engga aman!!!” Temenku itu panik, “kita harus kemana?” aku bingung, yang ada dipikiranku, “tempat yang tidak terlalu dekat dengan bangunan!” … “Kita ke belakang, ayooo!!!” kami kembali berlari, melintasi kerumunan orang didepan lobby dan mengajak siapapun yang kami kenali untuk ke lapangan di belakang gedung.
Sesampainya di belakang gedung, aku masih mengamati sekitar untuk memastikan kalau kami berada di posisi yang aman. Setelahnya aku telfon atasanku,
“ini Meity! Ada gempa, gempa … “Begitu situasi aman, kami mencoba untuk kembali ke ruang kerja kami di lantai 14 sana karena saat itu kami tengah mempersiapkan event. Sampai detik ini pun, aku masih belum berhenti mengucap syukur kalau aku bisa selamat dari musibah itu, berlari dari lantai 14 sampai ground floor terus ke lapangan di belakang gedung rasanya masih jadi sesuatu yang menakjubkan untuk aku. Memang tidak ada korban jiwa saat itu, tapi ya bagi aku pribadi, itu semacam tanda bagi aku bahwa ketika kuasa-Nya hadir, ketika tangan-Nya bekerja segalanya menjadi mungkin. Tidak ada yang tidak mungkin bagi-Nya. Allahu Akbar!
“disini engga ada tuh!” *nada bingung*
“wah??? Masa iya sih???” *ikutan bingung*
“emang ini dimana?”
“lagi di kereta api!”
Berhenti sampai disitu kah? Tidak! Selang seminggu kemudian, aku dipertemukan dengan seseorang dalam sebuah ruangan dan suasana yang benar-benar damai. Sekali lagi, aku melihat itu atas kehendak-Nya, atas kuasa-Nya. Saat dipertemukan itu, aku benar-benar melihatnya nyata dan dia menangis memohon maaf! Entah kenapa, pertemuan itu mengusik nuraniku. Miris melihatnya seperti itu! Sungguh! Lalu aku mencoba untuk bertanya pada seorang teman yang sudah aku anggap sebagai teman diskusi spiritualku. Katanya,”iya, bener yang kamu bilang itu, Meit! Kamu maafin dia?” Diam-diam aku menangis, “aku maafin dia kok, bener aku udah maafin dia saat itu juga. Aku tau dia khilaf … aku tau dia engga niat untuk berbuat seperti itu dan aku masih inget dengan jelas apa yang dia bilang” … diam … senyap … lalu kami terlibat pembicaraan serius seputar pertemuan itu. Dan, setelah hari itu kejadian demi kejadian benar-benar membuat aku semakin yakin bahwa ketika saatnya tiba maka akan Dia tunjukkan segalanya. Satu per satu, Dia perlihatkan padaku. Satu per satu, Dia berikan jawaban atas setiap pertanyaanku. Satu per satu kejadian ada didepan mata dan selalu membuat aku terkaget-kaget dan istighfar. Satu per satu kejadian itu yang semakin meyakinkanku bahwa, Allah itu Maha Melihat, Maha Tahu, Maha Mendengar, Maha Benar, Maha Kuasa … Jadi ketika tangan-Nya bekerja, tidak ada siapapun yang bisa menolak!
Ramadhan lalu pun menyisakan satu nikmat yang Allah berikan untuk aku, dua orang kakak yang tinggal jauh diseberang samudera sana. Makasih ya a, teh, untuk setiap do’a dan supportnya.
Setelah Ramadhan berlalu, masih menyisakan perjalanan spiritual yang membuat aku sering bercucuran air mata. Jangan tanya apakah itu air mata bahagia atau sedih!
Tahun ini, dalam hitungan hari … Ramadhan akan tiba! Lalu, akankah aku sampai pada Ramadhan-Mu kali ini, Ya Allah …
Dibalik setiap kejadian yang mengesalkan sampai yang menguras air mata itu, ada banyak hikmah dan nikmat yang aku dapatkan.
Ramadhan lalu pun sempat membuatku shock karena berbagai teror! Semoga Ramadhan tahun ini tak akan ada lagi teror yang akan membuat kekhusyu’anku dalam beribadah ternoda.



Huummmm… nggak kerasaan ya..
rasa2nya baru kemaren puasa..
Comment by adhie — 19 August 2008 @ 11:14 am
Ga kerasa ya teh …. semoga kita diberikan kesempatan bertemu dengan bulan Ramadhan dan diberikan hidayah di bulan Ramadhan kali ini ya teh …
Ya Allah… ampuni kami yang senantiasa lalai akan perintahMU
Ampuni kami yang senantiasa sombong dalam langkah ini
Hanya padaMU kami memohon dan hanya padaMU kami mohon ampun
Teteh … semoga kita senantiasa diberikan hidayah oleh-NYA ya … amin amin amin …
Comment by ulie — 19 August 2008 @ 1:47 pm
Salah satu sebab yang membuat hidup ni tidak tentram adalah terperdayanya kita oleh kecintaan pada harta dan dunia.Akibatnya, dalam diri kita lahir sikap2 yg sangat jauh dr rasa syukur.
Comment by ipam — 19 August 2008 @ 2:26 pm
Allahu Akbar!
Comment by masenchipz — 20 August 2008 @ 7:44 pm
Marhaban ya ramadhan… semoga ramadhan kali ini mendapatkan berkah dan rahmat-Nya…. maaf lahir bathin ya mak….
Comment by daku — 21 August 2008 @ 6:33 pm
subhanallah semoga taun ini Panda bisa sukses ngejalanin Ramadhan, amiin
Comment by Panda — 21 August 2008 @ 9:13 pm
btw bentar lagi mo puasa… ntr kapan2 gw mo kerumah mba ah… mo ikut buka ya… he..he…
Comment by masenchipz — 23 August 2008 @ 9:47 pm
Ramadhan datang lagi, siap atau enggak…harus tetap siap kan? Hehehe. Bicara soal gempa, aku sudah mengalaminya duluuu tahun 92…gede gempanya
heheh dan kemarin2 juga masih sering kok terjadi gempa2 kecil… udah biasa kali yah jadi kalo pas gempa ya keluar rumah aja
Comment by tuteh — 25 August 2008 @ 11:29 am
smoga qta bisa sampai ke ramadhan tahun ini dan dberkahi kesehatan untk menjalaninya ya mbak
Comment by pritha — 25 August 2008 @ 8:35 pm
maaf lahir batin yaaaa
Comment by ragil — 25 August 2008 @ 11:58 pm
Semoga kita masih diberi kesempatan untuk menjalani dan menikmati Puasa Ramadhan di tahun ini, dan semoga Puasa tahun ini bisa lebih baik drpd thn2 sebelumnya..
Selamat menjalankan ibadah puasa mbak meity.. mohon maaf lahir & bathin
Comment by Ippen — 26 August 2008 @ 12:04 am
hihihi gw jg pernah ngalami hal yang sama,di BEJ lagi sholat magrib, ada gempa, rakaat kedua terpaksa batal..,ngibrit cari tempat berlindung, gempa berenti baru lanjut sholat lagi
Comment by Fitra — 26 August 2008 @ 9:13 am
Meiy, maaf lahir bathin ya, semoga shaum kali ini dapat kita jalankan lebih baik dari taun2 sebelumnya dan kita dapat melaksanakannya dengan khusyu dan ikhlas.
Comment by Lirih — 26 August 2008 @ 10:56 am
persiapan Ramadhan?
Comment by tuteh — 27 August 2008 @ 6:08 pm
ramadhan datang..marhaban yaa ramadhan..
Comment by imgar — 29 August 2008 @ 5:25 am